Pembelajaran Berdiferensiasi

Pembelajaran Berdiferensiasi di SMPN 12 Bandung

titinada

Oleh : Titin Supriyatin, S.Pd. – (CGP Angkatan 4 Kota Bandung)

Koordinator Tim Pengembang Sekolah -SMPN 12 Bandung
Koordinator Mapel IPA APKS PGRI Jawa Barat

“Apakah saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat dari apa telah saya pelajari?”

“Bagaimana perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi?”

Menurut Tomlinson (2001: 45), Pembelajaran Berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Namun demikian, pembelajaran berdiferensiasi bukanlah berarti bahwa guru harus mengajar dengan 32 cara yang berbeda untuk mengajar 32 orang murid. Bukan pula berarti bahwa guru harus memperbanyak jumlah soal untuk murid yang lebih cepat bekerja dibandingkan yang lain. Pembelajaran berdiferensiasi juga bukan berarti guru harus mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar dan yang kurang dengan yang kurang. Bukan pula memberikan tugas yang berbeda untuk setiap anak. Pembelajaran berdiferensiasi bukanlah sebuah proses pembelajaran yang semrawut (chaotic), yang gurunya kemudian harus membuat beberapa perencanaan pembelajaran sekaligus, di mana guru harus berlari ke sana kemari untuk membantu si A, si B atau si C dalam waktu yang bersamaan. Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid.  Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas, bagaimana guru menanggapi atau merespon kebutuhan belajar muridnya, bagaimana ia akan menyesuaikan rencana pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid tersebut, Bagaimana mereka menciptakan lingkungan belajar yang “mengundang’ murid untuk belajar dan bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi, Manajemen kelas yang efektif serta Penilaian berkelanjutan. 

Sebagai Pendidik profesional, guru dituntut dapat melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi karena munculnya kesadaran bahwa setiap murid memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Kebutuhan belajar ini perlu diakomodir agar setiap murid dapat menikmati dan mendapat manfaat dari pembelajaran sehingga tercipta Student wellbeing”. 

Mengetahui Kebutuhan Belajar Murid 

Tomlinson (2001) dalam bukunya yang berjudul How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classroom menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling tidak berdasarkan 3 aspek; Kesiapan belajar (readiness) murid, Minat murid, dan Profil belajar murid. 

Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru. Guru perlu mengetahui kesiapan murid dalam menerima materi melalui serangkaian tes diagnostik baik kognitif maupun non kognitif. Tes Kognitif dapat berfungsi untuk mengetahui pemahaman awal murid, sehingga guru dapat menyetel pembelajaran seperti menyetel Equalizer, darimana harus memulai pembelajaran. Begitu pula tes non kognitif. Dengan mengetahui modal kesiapan belajar murid, tentu guru akan lebih mudah menfasilitasi pembelajaran sehingga sampai tujuan dengan meningkatkan kompetensi dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal.

kesiapan belajar murid

Tombol-tombol dalam equalizer mewakili beberapa perspektif kontinum yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan murid. kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan keterampilan atau pengetahuan baru yang akan diajarkan.  Adapun tujuan melakukan identifikasi atau pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar adalah untuk memodifikasi tingkat kesulitan pada bahan pembelajaran, sehingga dipastikan murid terpenuhi kebutuhan belajarnya (Joseph, Thomas, Simonette & Ramsook, 2013: 29).

Selain menemukan kesiapan belajar murid,  pemberian tes diagnostik guru juga akan memudahkan guru dalam mengidentifikasi  Minat dan Profil belajar belajar murid. Karena minat adalah salah satu motivator penting bagi murid untuk dapat ‘terlibat aktif’ dalam proses pembelajaran, maka memahami minat murid dalam belajar akan membantu guru untuk dapat mempertimbangkan bagaimana ia dapat mempertahankan atau menarik minat murid-muridnya agar terlibat dalam belajar. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid.

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar. Tujuan dari mengidentifikasi atau memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan profil belajar adalah untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara natural dan efisien. Namun demikian, sebagai guru, kadang-kadang kita secara tidak sengaja cenderung memilih gaya belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita sendiri.  Padahal kita tahu setiap anak memiliki profil belajar sendiri. Memiliki kesadaran tentang ini sangat penting agar guru dapat memvariasikan metode dan pendekatan mengajar. Tes diagnostik non kognitif untuk menemukan Profil Belajar ini tak kalah penting dibandingkan dengan tujuan tes diagnostik kognitif. Dengan mengetahui profil belajar murid, tentu murid akan belajar lebih alamiah dan dapat menikmati pembelajaran tanpa paksaan dan tidak terbebani secara psikologis. 

A small green rectangle to divide sections of the document

Melaksanakan Pembelajaran Berdiferensiasi di Kelas 

Setiap guru pada dasarnya mampu melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Keprofesionalan guru terukur dari kompetensi pertama yakni mengenal karakteristik peserta didik.  Apabila guru telah memiliki data kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid, maka langkah selanjutnya adalah melakukan eksekusi rencana pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid.  Guru dapat membuat peta kebutuhan murid dan memberikan treatmen pembelajaran berdiferensiasi. Strategi diferensi ini bisa pada konten, proses maupun produk bergantung pada kebutuhan belajar murid di kelas tersebut. 

Sebagai contoh saat kita mengetahui bahwa di kelas kita terdapat murid dengan gaya belajar Visual, Auditori dan Kinestetik, maka guru dapat menentukan cara pembuatan laporan proyek pembelajaran dengan cara yang sesuai dengan gaya belajar murid. Cara membuat laporan bisa dibuat dalam bentuk makalah, presentasi power point, rekaman suara, bercerita, komik,  video dan lainnya. Guru cukup memberikan rambu-rambu laporan misalnya saja pada laporan harus menyampaikan tujuan pengerjaan proyek, alat dan bahan yang digunakan, cara pembuatan dan lain-lain. Adapun caranya murid dapat menentukannya. 

Di kelas penulis sendiri, pembelajaran berdiferensi dengan strategi diferensi konten diimplementasikan pada Capaian Pembelajaran, Peserta didik mengelaborasikan pemahamannya tentang posisi relatif Bumi-Bulan-Matahari, sistem tata surya, struktur lapisan Bumi untuk menjelaskan fenomena alam yang terjadi” pada pembelajaran tentang gerhana bulan dan dampaknya bagi kehidupan di bumi misalnya terjadi banjir rob . Guru dapat mengemas pembelajaran dengan meminta murid mencari informasi mengenai dampak terjadinya banjir rob. Informasi yang dicari murid boleh dalam bentuk artikel berita, video dll, yang terpenting faktual dan relevan. Maka cara murid menemukan informasi bisa beragam. Setelah diperoleh informasi berbagai dampak banjir rob, guru dapat meminta murid menentukan satu dampak banjir rob yang menarik perhatiannya. Murid dapat dikelompokkan dengan sesama minatnya tanpa paksaan. Setiap kelompok diminta berdiskusi menentukan solusi terbaik apa yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dampak dari banjir rob. Setelah kelompok menyepakati solusinya, maka setiap orang bisa diminta menentukan caranya atau prosesnya merealisasikan solusi yang disepakati kelompok tadi. Setiap orang tentu memiliki cara yang menurutnya terbaik. Dengan gaya belajar yang berbeda dan kemampuan berpikir yang berbeda setiap anak bebas menentukan prosesnya yang terpenting setiap orang bertujuan meminimalisir dampak banjir rob yang disepakati. 

Hal ini dilakukan guru semata-mata karena menghargai keberagaman murid. Tidak ada benar dan salah dalam menentukan cara, tapi alur berpikir ini yang harus terus dikembangkan oleh guru dalam membantu murid mencapai tujuan pembelajaran dengan capaian yang maksimal .  dengan proses belajar yang alami tanpa paksaan.  Sebagaimana dikatakan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa tugas guru itu adalah ‘menuntun’ bukan menuntut. Guru hanya dapat membantu murid menemukan minatnya, menggali potensinya dan menjadikannya merdeka. Artinya guru bertugas menuntun murid agar bisa mengatur dirinya sendiri. Saat murid menentukan minatnya terhadap masalah yang diambil, saat dia menentukan caranya masing-masing untuk merealisasikan solusi yang disepakati disitulah guru hakikatnya sudah melaksanakan tugasnya yakni memerdekakan murid. 

Sumber :

 Modul 2.1 Pendidikan Guru Penggerak tentang Pembelajaran Berdiferensiasi. 

Contoh RPP Berdiferensiasi : https://bit.ly/Contoh_RPP_Berdiferensiasi

Pengambilan Keputusan Efektif yang berdampak pada murid 

Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara memiliki pandangan terhadap pengambilan suatu keputusan yang akan diambil oleh para pemimpin pembelajaan  dengan mengacu pada filosofi Pratap triloka;  ing ngarso Sung tulodo, ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani.  Guru hanya bertugas untuk menuntun murid dan menemukan potensi terbaik dirinya,  maka keteladanan guru juga akan menjadi cerminan bagi anak murid dalam mengambil suatu keputusan yang terbaik untuk muridnya.  Guru bertugas memberikan dorongan serta membangun Prakarsa,  hal ini tentunya akan sangat mempengaruhi keputusan yang diambil agar anak murid dapat menemukan prakarsa terbaik dan juga memiliki semangat juang yang tinggi untuk mencapai masa depan yang gemilang sesuai dengan potensi dirinya.

Dalam pengambilan keputusan hal yang mendasari adalah nilai-nilai kebajikan yang tertanam pada diri kita.  Sejauh mana seorang pemimpin pembelajar dapat mengambil satu keputusan yang manusiawi,  adil,  serta berdampak baik bagi jangka pendek maupun jangka panjang muridnya.  Seorang pemimpin pembelajar perlu mempertimbangkan beberapa aspek atas keputusan yang diambil.  Dia perlu menyadari situasi yang sedang dihadapinya apakah termasuk Dilema etika atau tujuan moral.  Pada situasi ini, pengambil keputusan sangat perlu  mengacu pada nilai-nilai kebajikan universal. Kepekaan sosial, rasa empati,  nilai-nilai kemanusiaan  akan membantunya dalam mengambil keputusan berdasarkan paradigma Dilema Etika yang muncul, prinsip pengambilan keputusan, serta memudahkannya dalam melakukan uji keputusan. 

Proses bimbingan atau coaching dengan model TIRTa sangat berperan penting dalam proses pengambilan keputusan. Dimulai dari penetapan tujuan,  identifikasi masalah,  penyusunan rencana,  dan pembangunan tanggung jawab pada dasarnya sudah membantu itu seseorang dalam mengambil keputusan penting bagi dirinya.  Namun masih ada hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat membantu coachee untuk mengambil keputusan secara efektif.  Pertimbangan-pertimbangan itu disampaikan oleh coach terhadap coachee dengan mempertimbangkan situasi dilema etika atau bujukan moral. Pada tahap identifikasi masalah, coach menggiring coachee untuk mengenal situasi Dilema etika atau bujukan moral dengan mempertimbangkan 4 paradigma Dilema etika.  Ketika  coachee sudah menyadari situasi yang dihadapi selanjutnya coach akan menanyakan rencana solusi atau keputusan yang diambil oleh  coachee  atas masalah yang dihadapinya.  Pada tahap ini coach perlu membantu  coachee memperhatikan prinsip-prinsip pengambilan keputusan.  Selanjutnya di tahap tanggung jawab,  coach akan membantu  coachee untuk melakukan pengujian atas keputusan dengan uji 9 langkah.  Dalam hal ini seorang coach penting menguasai teknik pengambilan keputusan juga mengetahui tahapan coaching sehingga  coachee dapat mengambil keputusan yang tepat. 

Pada saat pengambilan keputusan perlu dilakukan dengan kesadaran penuh.  Seseorang mengambil keputusan tidak boleh secara emosional, serta-merta dan terbawa perasaan sesaat sehingga keputusan yang diambil berdampak buruk pada ada lingkungan terlebih mempengaruhi masa depan seseorang menjadi lebih buruk.  Keputusan yang diambil haruslah mendidik dan memberikan pembelajaran agar setiap orang dapat menjadi lebih baik kedepannya. Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangat penting dan akan sangat mempengaruhi terhadap keputusan yang diambil. Dengan kematangan emosi dan penguasaan sosial emosi maka seseorang akan mampu secara objektif menemukan keputusan yang tepat dan menjadi solusi atas masalah yang terjadi.

Pada saat menghadapi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika,  maka pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dianutnya.  Seorang pendidik akan mengambil keputusan yang beragam tergantung nilai-nilai universal yang terkandung pada diri.  Ada yang sangat teguh memegang nilai-nilai kedisiplinan dan taat pada aturan sehingga tidak memberikan toleransi sekecil apapun pada pelanggaran kedisiplinan,  namun ada juga yang memberikan toleransi pelanggaran kedisiplinan selama alasannya manusiawi dan logis dan berdampak jangka panjang. Nilai kebajikan yang dianut ini akan mempengaruhi kebijaksanaan seorang pendidik dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan masalah moral dan etika. 

Ketepatan pengambilan keputusan akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Pengambilan keputusan dengan mempertimbangkan  paradigma Dilema etika, prinsip pengambilan keputusan  serta pengujian keputusan yang tepat akan berdampak pada kenyamanan lingkungan yang positif dan kondusif. 

Di lingkungan SMPN 12 Bandung kesulitan yang saya hadapi untuk pengambilan keputusan pada kasus Dilema etika ini  ini lebih sering dihadapkan pada  situasi rasa keadilan lawan rasa kasihan. Lingkungan saya memberikan daya lenting aturan pada situasi-situasi yang khusus sehingga   keadilan tampak lemah dan lebih dominan dengan rasa kasihan, padahal tidaklah demikian. 

Pada akhirnya keputusan yang diambil oleh seorang pendidik haruslah berfokus pada pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita.  Keputusan yang salah dan mengedepankan ego pendidik itu sendiri akan berakibat buruk sehingga murid akan kehilangan minat bakat dan dan potensi terbaiknya di masa depan. Sebaiknya keputusan yang tepat dan berpihak pada murid akan melejitkan potensi terbaik murid dan menjadikan masa depan ada dalam genggamannya. Untuk itu, sebaiknya setiap pendidik mulai melatih kepekaan diri agar Setiap keputusan yang diambil betul-betul berpihak pada murid.

Keputusan seorang pemimpin Pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya.  keputusan yang tepat akan mengembangkan potensi murid lebih maksimal lagi untuk kehidupan atau masa depannya,  sebaliknya keputusan yang salah dan tidak berpihak pada murid akan menghambat berkembangnya potensi terbaik dari murid dan melumpuhkan masa depannya.  murid akan tumbuh dengan potensi yang kerdil tidak memiliki dunianya sendiri.

Di akhir semester seperti saat ini, guru seringkali menghadapi situasi dilema etika dalam pemberian nilai akhir di rapor. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dihadapkan pada objektivitas nilai dan juga dampak jangka pendek dan jangka panjang yang diberikan. Sesuai dengan prinsip penilaian, bahwa penilaian harus bersifat akuntabel / dapat dipertanggungjawabkan. Apapun keputusan guru dalam pengambilan keputusan penilaian hendaknya memperhatikan situasi dilema etika dan bujukan moral melihat 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip pengambilan keputusan, serta 9 langkah pengujian keputusan.

Penulis :

Titin Supriyatin – Koordinator Pengembang Sekolah

Calon Guru Penggerak Angkatan 4 Kota Bandung

Pemetaan 7 Aset SMP Negeri 12 Bandung pada Project Penguatan Profil Pelajar Pancasila 

Oleh: Titin Supriyatin-Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 4 Kota Bandung

SMP Negeri 12 Bandung terletak di Jl. Doktor Setiabudi Nomor 195 di wilayah utara kota Bandung. Sekolah ini terletak di kawasan strategis ;  dekat dengan pemukiman penduduk,  beberapa lembaga pendidikan, tempat ibadah,  sarana kesehatan,  pasar tradisional, Swalayan,  Jalan Raya,  banyak terdapat Cafe dan tempat kuliner lainnya, koramil, dan polsek.  Sekolah ini memiliki kondisi yang nyaman dari sisi lingkungan, udara masih segar, banyak pepohonan, memiliki taman depan sekaligus area parkir, juga memiliki taman belakang yang difungsikan sebagai taman apresiasi dan pusat literasi.  

Meskipun sekolah ini terletak di depan Jalan Utama Jl. DR Setiabudi namun kondisi pembelajaran tetap kondusif karena posisi kelas agak jauh dari jalan raya sehingga tidak menimbulkan kebisingan yang mengganggu proses pembelajaran.  Dengan kondisi ini SMPN 12 Bandung berpeluang membuat program-program unggulan yang bisa memanfaatkan potensi lingkungan, aspek sosial, politik, Agama, Budaya, yang memungkinkan terjadinya kerjasama dengan banyak Stakeholder dengan mengoptimalkan modal manusia unggul dan modal finansial di sekolah. 

Sebagai salah satu sekolah penggerak di kota Bandung, SMPN 12 Bandung mengembangkan pembelajaran Berbasis Project yang terintegrasi mata pelajaran, salah satunya Project Kewirausahaan dengan bertajuk, “Membangun Ketahanan Pangan dan Ekonomi Keluarga”. Project ini dilaksanakan untuk mengembangkan life skill dan mengembangkan Profil Pelajar Pancasila khususnya Gotong Royong, kemandirian dan bernalar kritis. Project ini sukses dilaksanakan karena adanya kolaborasi antar guru mata pelajaran.  Guru-guru di SMPN 12 sudah bisa melakukan kolaborasi untuk mencapai tujuan yang sama. Dengan kolaborasi ini tentunya membuat pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan karena murid hanya fokus pada satu tugas project. Dengan menyelesaikan satu tugas ini, murid sudah menyelesaikan 7 tugas mata pelajaran. Bagi saya ini unik, karena guru-guru sudah berhasil menurunkan ego masing-masing mata pelajaran dan membuka diri untuk melakukan perubahan baru. 

Selain faktor guru, hal yang membuat berhasilnya project ini adalah peran serta /keterlibatan orangtua murid dalam proses pembelajaran. Dengan adanya tugas berdiskusi dengan orangtua tentang kebutuhan pangan di keluarga dan potensi menanam di rumah. Murid dilatih untuk mengkomunikasikan masalah dengan orangtua dan membuat kesepakatan tentang jenis pangan yang akan ditanam. 

Dukungan orangtua juga ditunjukkan dengan mengisi survei kesiapan sarana dan prasarana di rumah untuk menanam dan melakukan pengamatan secara mandiri.  Modal finansial pun bermain disini. Murid dilatih kreatif dengan modal yang sekecil mungkin bisa menghasilkan hasil panen yang bernilai jual tinggi walaupun hasil panen boleh dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan di rumah sendiri, berbagi dengan orang lain, maupun dijual kembali untuk menghasilkan keuntungan bagi keluarga itu sendiri. 

Pada masa itu, karena masih kondisi pandemik tugas project dilakukan secara mandiri di rumah sehinga keterlibatan orangtua sangat penting dengan memberikan dukungan sarana dan prasarana yang memadai. Bagi sekolah pengadaan sarana dan prasarana belajar lebih difokuskan pada sarana pembelajaran daring. Membuat kelas-kelas online, mengoptimalkan fitur-fitur pembelajaran dan memberi ruang kreasi murid secara virtual di web sekolah, IG, Facebook, youtube dll. Disamping itu sekolah tetap membuat modul dan lembar kerja manual bagi murid yang memiliki keterbatasan belajar secara jarak jauh. 

Dari project ini tergali banyak sekali potensi murid. Project ini melatih kepemimpinan murid dan ternyata membuahkan hasil adanya penguatan literasi dan numerasi.   Murid jadi terbiasa bercerita untuk menceritakan pengalaman, membaca sumber yang relevan tanpa disuruh, membuat data dalam bentuk Tabel dan grafik serta memiliki kemampuan menganalisis data.  Kemampuan nalar kritis mengalami peningkatan, disamping itu murid jadi terampil berkomunikasi juga mau membuka diri menerima dan memberi masukan untuk perbaikan. 

Disamping project kewirausahaan, di semester pertama SMPN 12 juga mengembangkan project kearifan lokal, Suara Demokrasi dan anti perundungan. Project ini berakhir dengan dilaksanakan Dubel’s Inspiration EXPO 2021. Pada kegiatan ini Sekolah dapat mengembangkan kemampuan kerjasama dengan berbagai stakeholder terkait diantaranya mengundang Ditjen GTK kemendikbud, Kepala-kepala sekolah tetangga, guru dan murid dari sekolah tetangga, orang tua murid, tokoh masyarakat, RT/RW. Lurah, camat, polsek dan Dewan keluarga masjid sekitar. Hal ini menjadi modal politik yang sangat baik bagi perkembangan sekolah. Disamping sebagai upaya mengenalkan budaya baru dalam pembelajaran, juga berpotensi mengembangkan aspek budaya dan agama.

Project kewirausahaan ini mengantarkan anak dapat berkolaborasi dalam kelompok, lintas kelompok, perbedaan agama, suku, budaya untuk mencapai tujuan yang sama. Diakhir project murid diberikan ruang melakukan refleksi tentang potensi kematian tanaman. Konsep hidup dan mati ini tentunya diajarkan pada setiap agama. Murid lebih memahami bahwa tugas manusia hanya berencana dan berikhtiar dengan bekal ilmu yang dimiliki. Selebihnya murid dilatih bertawakal dengan hasil yang didapat. 

Saya melihat banyak sekali aset yang dimiliki sekolah ini dan sangat memungkinkan untuk melakukan percepatan belajar demi mencapai visi pendidikan nasional dengan pelibatan banyak stakeholder dan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna berbasis project. Saya optimis dengan pembelajaran seperti ini dan 7 modal aset yang dimiliki, apabil dikelola dengan sungguh-sungguh, sekolah dapat mewujudkan program-program baru dan unik dengan pola pikir berbasis aset.  Perkembangan profil pelajar pancasila pada diri murid akan lebih cepat dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan kita saat ini.